Selasa, 05 Januari 2016

Cerpen-Cahaya Kemerahan

20.56

Cahaya Kemerahan


Pasir-pasir pantai terasa hangat dikakiku, pasir ini terasa lembut. Aku menatap ombak kecil yang bergulung menyapu pasir-pasir. Matahari tampak mulai menyembunyikan dirinya, meninggalkan sinar kemerahan.
Aku menatap pantai mencari dua temanku, Jane dan Radra. Mataku tidak menemui wajah mereka. Ah bagaimana mungkin mereka tidak mengajakku. Aku menghela nafasku perlahan. Berjalan perlahan meninggalkan pantai. Aku menuju parkiran. Mereka bahkan belum ada dimobil. Kemana mereka? Tidak pernah Radra membuatku harus mencarinya seperti ini. Dia pria yang baik.
Aku duduk bawah pohon kelapa disamping mobil kami, matahari sudah tenggelam sempurna, kegelapan meliputi tempat ini. Ada rasa khawatir di hatiku, kemana mereka?
Langkah kaki terdengar bergerak kearahku, aku menolehkan pandanganku kearah langkah kaki yang kudengar. Ah syukurlah. Langkah kaki itu berasal dari Radra dan Jane. Mereka berdiri disampingku sambil memegang ice cream. Mataku sedikit memicing memandang mereka, memastikan bahwa memang mereka tidak membelikan untukku.
Ah persetan, mereka enak-enakan disana, aku disini menunggu mereka dalam kegelapan. Ada rasa kesal yang tiba-tiba datang. Radra membuka mobil. Aku segera membuka pintu depan.
“Fray.” Suara Jane terdengar saat aku membuka pintu.
“Ha?”
“Boleh gak aku yang didepan?”
Hah? Bagaimana mungkin Jane meminta hal seperti itu, biasanya Jane sangat malas duduk didepan. Aku melepaskan tanganku dari pintu depan, menuju pintu belakang.
Sepanjang jalan, Radra dan Jane berbagi cerita, ingin rasanya aku menutup telingaku. Entahlah tiba-tiba ada rasa kesal yang kurasakan. Ini pertama kalinya kami pergi bertiga, biasanya aku pergi bersama Radra. Harusnya Jane memang tidak perlu ikut.
“Fray.” Suara Radra membuyarkan pikiranku.
“Ya.”
“Kenapa diam?”
“Enggakpapa Capek aja.” Jawabku pelan.
“Aku antar kamu dulu ya Fray?”
“Kenapa Dra, bukannya kamu harus keliling kalau harus ngantar aku dulu? Ngantar Jane aja dulu.” Jawabku
“Enggakpapa, kamu kan capek Fray, kamu butuh istirahat Fray.”
Sampai dirumah aku memutuskan mandi, entah kenapa ada yang aneh diantara Jane dan Radra. Kubiarkan tubuhku berbaring dengan rambut yang masih basah. Radra benar aku butuh istirahat.
Pagi harinya aku pergi kuliah lebih awal, banyak tugas yang belum aku selesaikan, terkadang tugas-tugas begitu banyak, kadang tugas lebih tepatnya memperbudak. Aku duduk dikantin sibuk dengan laptopku. Tiba-tiba aku mendengar suara tertawa seorang wanita. Aku memejamkan mataku, aku mengetahui wanita itu.
Aku menolehkan kepalaku kekiri, tepat itu Jane dan astaga Radra bagaimana mungkin mereka sedekat itu. Dan parahnya mereka tidak mengajakku. Radra dia Pria pemalu, dia hanya berani kekantin jika bersamaku, tapi sekarang Radra bersama orang lain, Jane. Dia sahabatku.
Aku tersenyum kearah mereka, Jane berlari kearahku sambil berteriak. Ini dia, Jane sangat berlebihan kalau bertemu denganku dimanapun. Ada rasa hambar saat Jane memelukku, tidak seperti biasanya.
Radra dan Jane duduk dihadapanku. Aku menatap Radra, dia lebih baik dari kemarin-kemarin. Wajahnya kini lebih sering tersenyum. Mungkin memang Jane mengubahnya.
“Sibuk dengan tugas?” Jane menatapku
“Iya, kalian cocok loh, jadian aja.” Ujarku sambil merapikan barang-barangku.
“Eh, mau kemana Fray?” Radra menatapku tajam.
“Ada kelas.” Jawabku sambil meninggalkan mereka.
Entah kenapa ada rasa benci,kesal atau bahkan jijik melihat mereka berdua. Aku begitu bodoh, aku bahkan tidak bisa menerjemahkan apa yang kurasakan. Aku memasuki kelas yang masih sepi, aku melihat jam tanganku. Aku masih punya waktu, 15 menit lagi. Aku menatap keluar, tatapanku tepat kearah kantin. Aku melihat mereka berdua disana, bercanda berdua, tersenyum, terkadang mereka tertawa. Mungkin Tuhan memang menciptakan hari ini hanya untuk membuatku melihat mereka, dua temanku yang kini membuatku merasa sendirian disini.
Mulai saat itu, aku memutuskan untuk menjauh dari pertemanan yang kubuat, mungkin aku bisa menghibur diriku dengan tugas-tugasku yang sangat banyak. Aku sengaja mengambil jadwal kuliah yang padat agar mempunyai alasan untuk menjauh dari mereka.
Satu bulan sudah berlalu, aku merasa aku tidak memerlukan mereka, aku bisa sendiri. Malam ini aku 
mengerjakan tugas kelompok dengan temanku dirumahku.
“Fray, ada telefon.” Sandra mengulurkan gagang telepon kearahku.
“Oh Oke Sand.”
“halo, siapa ya?”
“Fray, ini Radra, kenapa nomor kamu gak aktif selama ini? Kamu kemana aja? Apa kamu terlalu sibuk sampai gak punya waktu buat jalan dengan kita?”
“Dra. Aku sibuk Dra, aku enggak punya waktu kaya dulu lagi.” Jawabku berbohong.
“Fray, aku mau cerita ini sama kamu dari kemarin.” Suara Radra seperti sangat senang diseberang sana.
“Apa?” ujarku pelan.
“Aku ngerasa nyaman sama Jane, thanks ya udah ngebuat aku kenal dia. Emm sebenarnya aku udah jadian sama Jane sejak satu minggu terakhir. Fray thanks ya.”
Aku merasa sangat bodoh disini, aku merasa kehilangan. Aku menatap dalam-dalam dinding rumahku, Radra. Temanku yang benar-benar pemalu, banyak yang terjadi selama lima tahun kami berteman, dan Jane. Sahabat kecilku, banyak cerita yang sudah kubagikan bersamanya. Sekarang mereka bersama, aku seakan-akan hanya sebagai jembatan penyambung.
“Fray…Fray?” suara Radra terdengar disana.
Aku menutup telefon. Berjalan perlahan kearah Sandra yang sedang sibuk dengan tugas kami. Aku memeluknya, aku merasa nyaman dipelukan Sandra.
“Fray, kenapa?”
“Radra jadian sama Jane Sand.” Aku merasa air mataku mengalir pelan.
“Terus kenapa?”
“Sandra, aku ngerasa kehilangan banget, kaya Radra itu bakalan gak bisa lagi aku temui. Aku bodoh harusnya aku enggak perlu ngenalin Jane ke Radra.”
Sandra menatap mataku, mrngusap air mataku perlahan.
“Jangan pernah menyukai sahabatmu Frayaku, jadikan pertemanan hanya sebuah pertemanan  Jangan memberikan hatimu Fray.” Sandra memelukku dengan erat.
Pagi ini ada rasa malas untuk pergi kuliah, entah kenapa tubuhku terasa lelah. Ah tapi hari ini deadline tugasku, tugas seakan-akan jadi nyawa buat pelajar. Aku menjalankan mobilku perlahan menuju tempat kuliahku. Saat aku keluar dari mobilku, ada yang memegang pundakku. Aku menatap kearah yang empunya tangan.
“Hai Fraya.” Radar menyapaku saat aku menatapnya.
“Maaf Radra aku lagi deadline tugas.” Ujarku menepis tangan Radra dari pundakku.
Berat rasanya untuk menatap mata Radra, aku merasa sangat bodoh jika aku harus tersenyum lagi untuknya, atau tertawa bersamanya, saat ini Radra sudah mempunyai orang yang istimewa. Walaupun sulit. Inilah pertemanan, kerelaan mempunyai andil besar disini.
Akhir pekan ini, aku memutuskan untuk pergi kepantai. Pantai yang sama saat aku ditinggalkan Radra untuk pertama kalinya. Pantai yang sama saat untuk pertamakalinya kami pergi bertiga. Aku menatap dalam-dalam air yang tergulung kearah pasir-pasir putih nan lembut. aku membiarkan tubuhku terpapar sinar mathari yang tidak terlalu panas.
Aku mengingat semua yang terjadi disini, saat aku dan Radra untuk pertama kalinya kesini, saat aku mengajari Radra membuat istana dari pasir, saat itu untuk pertama kalinya Radra mengusap rambutku. Senyumku tidak bisa kutahan melihat semua itu. Radra yang pemalu yang saat itu menjadi korban bully saat kelas sepuluh. Hidupnya memang terlalu sulit saat itu memang pantas dia berbahagia saat ini.

Kuputuskan untuk menghabiskan waktuku untuk berteduh dibawah pohon rindang. Dua jam lagi matahari akan terbenam, ini yang kutunggu.

Saat matahari hampir terbenam. Aku berdiri dipasir lembut, aku menyukai saat-saat seperti ini.aku memejamkan mataku membiarkan angin menghembus diriku. 

Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku membuka mataku menoleh kearah yang empunya tangan. Ah Radra. Untuk apa dia kesini, aku menatap sekeliling pantai.

“Tidak ada Jane disini.” Radra menatapku sambil menarikku untuk duduk dipasir.

“Untuk apa kesini?”

“Rindu aja, aku sudah lama menunggumu disini setiap akhir pekan, sampai akhirnya saat ini kamu disini.”

“Dasar bodoh.”Jawabku.

“Bodoh mana dengan caramu yang menghilang.?”

“Aku enggak menghilang, aku sibuk.” Jawabku lagi.

Kami membiarkan diri kami dalam diam, aku mentap matahari yang kini tinggal setengah.
“Dra.”

“Ya.”

“Kamu tau?  Saat seorang teman mendukungmu untuk memilih orang lain, artinya dia menginginkamu memilih dia.”

“Benarkah? Apa wanita sesulit itu? Mungkin aku memang salah Fray, tapi satu hal yang harus kamu tahu.”

“Apa?”

“Seorang teman tidak berharap ditinggalkan saat dia berbahagia, seorang teman berharap ada yang memegangnya tidak peduli saat bahagia ataupun sedih, orang yang terlalu bahagiapun terkadang gelap mata.”
Aku menganggukkan kepalaku perlahan.

“Fray, mungkin sulit untuk memahamimu, tapi aku tahu kamu sudah berhasil memahamiku, itu yang membuatmu berharga untukku.”

“Jadi?” aku menatap kearah matanya yang kini berwana kemerahan, cahaya ini berasal dari matahari yang sedikit lagi terbenam sempurna.

“Tetaplah menyapaku Fray, tetaplah jadi temanku, tetaplah membuatku merasa dihargai.”

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 justwrite. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top