Cahaya Kemerahan
Pasir-pasir
pantai terasa hangat dikakiku, pasir ini terasa lembut. Aku menatap
ombak kecil yang bergulung menyapu pasir-pasir. Matahari tampak mulai
menyembunyikan dirinya, meninggalkan sinar kemerahan.
Aku menatap pantai mencari dua temanku, Jane dan Radra. Mataku tidak menemui wajah mereka. Ah bagaimana mungkin mereka tidak mengajakku. Aku menghela nafasku perlahan. Berjalan perlahan meninggalkan pantai. Aku menuju parkiran. Mereka bahkan belum ada dimobil. Kemana mereka? Tidak pernah Radra membuatku harus mencarinya seperti ini. Dia pria yang baik.
Aku menatap pantai mencari dua temanku, Jane dan Radra. Mataku tidak menemui wajah mereka. Ah bagaimana mungkin mereka tidak mengajakku. Aku menghela nafasku perlahan. Berjalan perlahan meninggalkan pantai. Aku menuju parkiran. Mereka bahkan belum ada dimobil. Kemana mereka? Tidak pernah Radra membuatku harus mencarinya seperti ini. Dia pria yang baik.
Aku
duduk bawah pohon kelapa disamping mobil kami, matahari sudah tenggelam
sempurna, kegelapan meliputi tempat ini. Ada rasa khawatir di hatiku,
kemana mereka?
Langkah kaki terdengar bergerak kearahku, aku menolehkan pandanganku kearah langkah kaki yang kudengar. Ah syukurlah. Langkah kaki itu berasal dari Radra dan Jane. Mereka berdiri disampingku sambil memegang ice cream. Mataku sedikit memicing memandang mereka, memastikan bahwa memang mereka tidak membelikan untukku.
Langkah kaki terdengar bergerak kearahku, aku menolehkan pandanganku kearah langkah kaki yang kudengar. Ah syukurlah. Langkah kaki itu berasal dari Radra dan Jane. Mereka berdiri disampingku sambil memegang ice cream. Mataku sedikit memicing memandang mereka, memastikan bahwa memang mereka tidak membelikan untukku.
Ah
persetan, mereka enak-enakan disana, aku disini menunggu mereka dalam
kegelapan. Ada rasa kesal yang tiba-tiba datang. Radra membuka mobil.
Aku segera membuka pintu depan.
“Fray.” Suara Jane terdengar saat aku membuka pintu.
“Ha?”
“Boleh gak aku yang didepan?”
Hah?
Bagaimana mungkin Jane meminta hal seperti itu, biasanya Jane sangat
malas duduk didepan. Aku melepaskan tanganku dari pintu depan, menuju
pintu belakang.
Sepanjang
jalan, Radra dan Jane berbagi cerita, ingin rasanya aku menutup
telingaku. Entahlah tiba-tiba ada rasa kesal yang kurasakan. Ini pertama
kalinya kami pergi bertiga, biasanya aku pergi bersama Radra. Harusnya
Jane memang tidak perlu ikut.
“Fray.” Suara Radra membuyarkan pikiranku.
“Ya.”
“Kenapa diam?”
“Enggakpapa Capek aja.” Jawabku pelan.
“Aku antar kamu dulu ya Fray?”
“Kenapa Dra, bukannya kamu harus keliling kalau harus ngantar aku dulu? Ngantar Jane aja dulu.” Jawabku
“Enggakpapa, kamu kan capek Fray, kamu butuh istirahat Fray.”
Sampai
dirumah aku memutuskan mandi, entah kenapa ada yang aneh diantara Jane
dan Radra. Kubiarkan tubuhku berbaring dengan rambut yang masih basah.
Radra benar aku butuh istirahat.
Pagi harinya aku pergi kuliah lebih awal, banyak tugas yang belum aku selesaikan, terkadang tugas-tugas begitu banyak, kadang tugas lebih tepatnya memperbudak. Aku duduk dikantin sibuk dengan laptopku. Tiba-tiba aku mendengar suara tertawa seorang wanita. Aku memejamkan mataku, aku mengetahui wanita itu.
Pagi harinya aku pergi kuliah lebih awal, banyak tugas yang belum aku selesaikan, terkadang tugas-tugas begitu banyak, kadang tugas lebih tepatnya memperbudak. Aku duduk dikantin sibuk dengan laptopku. Tiba-tiba aku mendengar suara tertawa seorang wanita. Aku memejamkan mataku, aku mengetahui wanita itu.
Aku
menolehkan kepalaku kekiri, tepat itu Jane dan astaga Radra bagaimana
mungkin mereka sedekat itu. Dan parahnya mereka tidak mengajakku. Radra
dia Pria pemalu, dia hanya berani kekantin jika bersamaku, tapi sekarang
Radra bersama orang lain, Jane. Dia sahabatku.
Aku
tersenyum kearah mereka, Jane berlari kearahku sambil berteriak. Ini
dia, Jane sangat berlebihan kalau bertemu denganku dimanapun. Ada rasa
hambar saat Jane memelukku, tidak seperti biasanya.
Radra dan Jane duduk dihadapanku. Aku menatap Radra, dia lebih baik dari kemarin-kemarin. Wajahnya kini lebih sering tersenyum. Mungkin memang Jane mengubahnya.
Radra dan Jane duduk dihadapanku. Aku menatap Radra, dia lebih baik dari kemarin-kemarin. Wajahnya kini lebih sering tersenyum. Mungkin memang Jane mengubahnya.
“Sibuk dengan tugas?” Jane menatapku
“Iya, kalian cocok loh, jadian aja.” Ujarku sambil merapikan barang-barangku.
“Eh, mau kemana Fray?” Radra menatapku tajam.
“Ada kelas.” Jawabku sambil meninggalkan mereka.
Entah
kenapa ada rasa benci,kesal atau bahkan jijik melihat mereka berdua. Aku
begitu bodoh, aku bahkan tidak bisa menerjemahkan apa yang kurasakan.
Aku memasuki kelas yang masih sepi, aku melihat jam tanganku. Aku masih
punya waktu, 15 menit lagi. Aku menatap keluar, tatapanku tepat kearah
kantin. Aku melihat mereka berdua disana, bercanda berdua, tersenyum,
terkadang mereka tertawa. Mungkin Tuhan memang menciptakan hari ini
hanya untuk membuatku melihat mereka, dua temanku yang kini membuatku
merasa sendirian disini.
Mulai
saat itu, aku memutuskan untuk menjauh dari pertemanan yang kubuat,
mungkin aku bisa menghibur diriku dengan tugas-tugasku yang sangat
banyak. Aku sengaja mengambil jadwal kuliah yang padat agar mempunyai
alasan untuk menjauh dari mereka.
Satu bulan sudah berlalu, aku merasa aku tidak memerlukan mereka, aku bisa sendiri. Malam ini aku
mengerjakan tugas kelompok dengan temanku dirumahku.
“Fray, ada telefon.” Sandra mengulurkan gagang telepon kearahku.
“Oh Oke Sand.”
“halo, siapa ya?”
“Fray,
ini Radra, kenapa nomor kamu gak aktif selama ini? Kamu kemana aja? Apa
kamu terlalu sibuk sampai gak punya waktu buat jalan dengan kita?”
“Dra. Aku sibuk Dra, aku enggak punya waktu kaya dulu lagi.” Jawabku berbohong.
“Fray, aku mau cerita ini sama kamu dari kemarin.” Suara Radra seperti sangat senang diseberang sana.
“Apa?” ujarku pelan.
“Aku
ngerasa nyaman sama Jane, thanks ya udah ngebuat aku kenal dia. Emm
sebenarnya aku udah jadian sama Jane sejak satu minggu terakhir. Fray
thanks ya.”
Aku
merasa sangat bodoh disini, aku merasa kehilangan. Aku menatap
dalam-dalam dinding rumahku, Radra. Temanku yang benar-benar pemalu,
banyak yang terjadi selama lima tahun kami berteman, dan Jane. Sahabat
kecilku, banyak cerita yang sudah kubagikan bersamanya. Sekarang mereka
bersama, aku seakan-akan hanya sebagai jembatan penyambung.
“Fray…Fray?” suara Radra terdengar disana.
Aku
menutup telefon. Berjalan perlahan kearah Sandra yang sedang sibuk
dengan tugas kami. Aku memeluknya, aku merasa nyaman dipelukan Sandra.
“Fray, kenapa?”
“Radra jadian sama Jane Sand.” Aku merasa air mataku mengalir pelan.
“Terus kenapa?”
“Sandra,
aku ngerasa kehilangan banget, kaya Radra itu bakalan gak bisa lagi aku
temui. Aku bodoh harusnya aku enggak perlu ngenalin Jane ke Radra.”
Sandra menatap mataku, mrngusap air mataku perlahan.
“Jangan
pernah menyukai sahabatmu Frayaku, jadikan pertemanan hanya sebuah
pertemanan Jangan memberikan hatimu Fray.” Sandra memelukku dengan
erat.
Pagi
ini ada rasa malas untuk pergi kuliah, entah kenapa tubuhku terasa
lelah. Ah tapi hari ini deadline tugasku, tugas seakan-akan jadi nyawa
buat pelajar. Aku menjalankan mobilku perlahan menuju tempat kuliahku.
Saat aku keluar dari mobilku, ada yang memegang pundakku. Aku menatap
kearah yang empunya tangan.
“Hai Fraya.” Radar menyapaku saat aku menatapnya.
“Maaf Radra aku lagi deadline tugas.” Ujarku menepis tangan Radra dari pundakku.
Berat
rasanya untuk menatap mata Radra, aku merasa sangat bodoh jika aku harus
tersenyum lagi untuknya, atau tertawa bersamanya, saat ini Radra sudah
mempunyai orang yang istimewa. Walaupun sulit. Inilah pertemanan,
kerelaan mempunyai andil besar disini.
Akhir
pekan ini, aku memutuskan untuk pergi kepantai. Pantai yang sama saat
aku ditinggalkan Radra untuk pertama kalinya. Pantai yang sama saat
untuk pertamakalinya kami pergi bertiga. Aku menatap dalam-dalam air
yang tergulung kearah pasir-pasir putih nan lembut. aku membiarkan
tubuhku terpapar sinar mathari yang tidak terlalu panas.
Aku
mengingat semua yang terjadi disini, saat aku dan Radra untuk pertama
kalinya kesini, saat aku mengajari Radra membuat istana dari pasir, saat
itu untuk pertama kalinya Radra mengusap rambutku. Senyumku tidak bisa
kutahan melihat semua itu. Radra yang pemalu yang saat itu menjadi
korban bully saat kelas sepuluh. Hidupnya memang terlalu sulit saat itu
memang pantas dia berbahagia saat ini.
Kuputuskan untuk menghabiskan waktuku untuk berteduh dibawah pohon rindang. Dua jam lagi matahari akan terbenam, ini yang kutunggu.
Saat matahari hampir terbenam. Aku berdiri dipasir lembut, aku menyukai saat-saat seperti ini.aku memejamkan mataku membiarkan angin menghembus diriku.
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundakku. Aku membuka mataku menoleh kearah yang empunya tangan. Ah Radra. Untuk apa dia kesini, aku menatap sekeliling pantai.
“Tidak ada Jane disini.” Radra menatapku sambil menarikku untuk duduk dipasir.
“Untuk apa kesini?”
“Rindu aja, aku sudah lama menunggumu disini setiap akhir pekan, sampai akhirnya saat ini kamu disini.”
“Dasar bodoh.”Jawabku.
“Bodoh mana dengan caramu yang menghilang.?”
“Aku enggak menghilang, aku sibuk.” Jawabku lagi.
Kami membiarkan diri kami dalam diam, aku mentap matahari yang kini tinggal setengah.
“Dra.”
“Ya.”
“Kamu tau? Saat seorang teman mendukungmu untuk memilih orang lain, artinya dia menginginkamu memilih dia.”
“Benarkah? Apa wanita sesulit itu? Mungkin aku memang salah Fray, tapi satu hal yang harus kamu tahu.”
“Apa?”
“Seorang teman tidak berharap ditinggalkan saat dia berbahagia, seorang teman berharap ada yang memegangnya tidak peduli saat bahagia ataupun sedih, orang yang terlalu bahagiapun terkadang gelap mata.”
Aku menganggukkan kepalaku perlahan.
“Fray, mungkin sulit untuk memahamimu, tapi aku tahu kamu sudah berhasil memahamiku, itu yang membuatmu berharga untukku.”
“Jadi?” aku menatap kearah matanya yang kini berwana kemerahan, cahaya ini berasal dari matahari yang sedikit lagi terbenam sempurna.
“Tetaplah menyapaku Fray, tetaplah jadi temanku, tetaplah membuatku merasa dihargai.”

0 komentar:
Posting Komentar